“Ketika satu rumah dibangun, yang bergerak bukan hanya industri semen dan baja. Ada tukang, pemasok material lokal, jasa keuangan, hingga warung di sekitar proyek yang ikut merasakan dampaknya. Properti adalah salah satu dari sedikit sektor yang efek ekonominya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat di sekitar setiap proyek yang dibangun.”—Pamuji, Chief Executive Officer Pasedona
Kontribusi yang Lebih Besar dari yang Terlihat
Sektor properti dan konstruksi kerap dipandang sebelah mata sebagai sekadar industri jual beli tanah dan bangunan. Padahal, kontribusinya terhadap perekonomian nasional jauh lebih signifikan dari yang terlihat di permukaan. Berdasarkan data Realestat Indonesia (REI), realisasi investasi properti tercatat mencapai sekitar Rp75 triliun pada semester kedua 2025, tumbuh 3,71 persen secara tahunan, sementara sektor konstruksi tumbuh lebih tinggi lagi di level 4,98 persen.
Kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) diproyeksikan meningkat dari sekitar 10 persen menjadi 11,5 persen pada 2026, menjadikannya salah satu dari tiga sektor dengan realisasi investasi terbesar secara nasional, setara Rp105,2 triliun untuk kategori perumahan dan kawasan industri saja hingga kuartal ketiga 2025.
Satu Rumah, Puluhan Industri Ikut Bergerak
Karakter unik dari sektor properti terletak pada efek berganda atau multiplier effect yang dihasilkannya. Satu proyek perumahan diperkirakan mampu menggerakkan lebih dari 180 subsektor industri lain, mulai dari semen, baja, kaca, keramik, kayu, dan furnitur, hingga jasa logistik, jasa keuangan, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitarnya.
Pada masa ketika sektor ini berada di puncak kontribusinya, sektor perumahan dan properti pernah menyumbang hingga 16 persen terhadap PDB nasional serta menyerap sekitar 13,8 juta tenaga kerja per tahun, sebuah angka yang menegaskan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan pada sektor ini menghasilkan efek berantai jauh melampaui nilai transaksi rumah itu sendiri.
Quick Facts
- Kontribusi sektor properti terhadap PDB nasional diproyeksikan meningkat menjadi 11,5 persen pada 2026.
- Satu proyek perumahan dapat menggerakkan lebih dari 180 subsektor industri lain, dari material bangunan hingga jasa keuangan.
- Backlog perumahan nasional masih mencapai 9,9 juta rumah tangga, dengan 26,9 juta rumah tangga tinggal di hunian yang belum layak huni.
Backlog Perumahan: Tantangan yang Juga Membuka Peluang Ekonomi
Di balik pertumbuhan tersebut, Indonesia masih menghadapi backlog perumahan yang mencapai 9,9 juta rumah tangga, sementara 26,9 juta rumah tangga lainnya tinggal di hunian yang belum memenuhi standar layak huni. Angka ini menunjukkan bahwa kebutuhan riil terhadap hunian berkualitas masih jauh lebih besar dibanding pasokan yang tersedia, sekaligus menjadi peluang ekonomi bagi pengembang untuk terus berperan aktif menutup kesenjangan tersebut.
Pemerintah merespons hal ini melalui Program 3 Juta Rumah dan perluasan skema pembiayaan FLPP dengan tenor hingga 40 tahun, namun pencapaian target sebesar ini membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, perbankan, dan pengembang swasta yang memahami karakter pasar di masing-masing daerah.
Peran Pengembang Skala Menengah dalam Menutup Kesenjangan
Di tengah dominasi pengembang besar di kawasan pusat kota, pengembang skala menengah yang berfokus pada koridor pertumbuhan seperti Depok dan Bekasi memainkan peran penting dalam menyediakan hunian pada segmen menengah yang justru menjadi pendorong utama pertumbuhan pasar. Setiap klaster perumahan yang dibangun di kawasan ini turut menciptakan lapangan kerja bagi tenaga konstruksi lokal, pemasok material di sekitar proyek, hingga pelaku UMKM yang tumbuh seiring bertambahnya populasi penghuni baru.
“Sektor properti terbukti tetap tumbuh bahkan di tengah tekanan ekonomi global, karena kebutuhan dasar terhadap hunian tidak pernah berhenti. Bagi kami di Pasedona, setiap klaster yang dibangun di koridor Depok-Bekasi bukan hanya tentang unit rumah yang terjual, tetapi tentang bagaimana kawasan itu ikut hidup, dari tenaga kerja lokal yang terserap hingga UMKM di sekitarnya yang ikut tumbuh” ujar Pamuji, Chief Executive Officer Pasedona.
Menurut Pamuji, memahami peran ekonomi ini juga mengubah cara Pasedona memandang setiap proyek, tidak semata sebagai unit yang harus terjual, tetapi sebagai kontribusi jangka panjang terhadap pertumbuhan kawasan tempat proyek tersebut berdiri.
Filosofi Pasedona: Membangun Rumah, Menggerakkan Kawasan
Di Pasedona, kami percaya bahwa peran pengembang tidak berhenti pada penyediaan hunian, tetapi turut berkontribusi pada ekosistem ekonomi di sekitarnya, mulai dari penyerapan tenaga kerja lokal, kemitraan dengan pemasok material di kawasan sekitar proyek, hingga mendukung pertumbuhan UMKM di lingkungan klaster.
Pendekatan ini tercermin dalam proyek-proyek Pasedona di koridor Depok-Bekasi, seperti Taman Bougenville Estate di Jatibening dan Bianca Villa di Sawangan, yang dikembangkan dengan kesadaran bahwa setiap klaster perumahan adalah bagian dari ekosistem ekonomi yang lebih luas.
Pada akhirnya, sektor properti akan terus menjadi salah satu penggerak utama perekonomian nasional selama para pelakunya memandang setiap proyek bukan sekadar sebagai unit yang dijual, melainkan sebagai kontribusi nyata terhadap pertumbuhan kawasan dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.



